Feeds:
Pos
Komentar

Sebagai pemula setiap aikidoka harus mengetahui  prinsip dasar dalam aikido. Prinsip-prinsip ini sangat penting untuk mempraktikkan aikido secara baik dan benar. Menurut ajaran O sensei, praktik aikido  harus relaxed dan centered, tenang secara mental , dan sadar akan ki.. Koichi Tohei Sensei yang kemudian mengkodifikasi dan menyederhanakan menjadi empat point khusus yang dinamakan The Four Basic Principles to Unify Mind and Body, secara singkat disebut Four Basic Principles (Empat Prinsip Dasar)

Setiap prinsip dari kempatnya berhubungan satu sama lain. Jika anda tidak menguasai satu, anda sebenarnya tidak menguasai yang lain.

Kempat prinsip dasar tersebut adalah: 1. Keep one- point (Pertahankan keadaaan satu titik); 2. Relax Completely (Relax badan  dan pikiran seluruhnya); 3. Weight underside (letakka berat badan di bagian bawah); 4. Extend Ki (Pancarkan Ki)

1. Keep one -point

Satu titik dalam aikido adalah area kira-kira tiga jari lebarnya dibawah pusar Anda. Secara fisik, ini adalah pusat dari gravitasi dari berat badan. Secara spiritual, ini adalah tempat dimana ki bernaung. Orang jepang menyebutnya hara, the seika no tanden, the seika no itten, dll. Dalam bahasa barat, istilahnya adalah “gut” , tempat dimana ” perasaan keberanian” muncul. Dalam aikido, semua gerakan berasal dari one-point, seperti juga extension ki. Pikirkan one-point Anda sebagai generator ki Anda.

2. Relax Completely

Setiap atlet akan mengatakan kepada Anda bahwa Anda harus relax untuk perform pada efisiensi dan keahlian yang optimum. Sepertinya ini kontradiktif , tetapi tidak. Kakukan seluruh tubuh Anda, adn coba untuk bergerak secara lancar. Anda tak akan bisa. Hal yang sama ada pada aikido. Untuk melaksanakan teknik aikido, Anda harus serelax mungkin. Anda juga harus relax untuk bisa berhubungan dengan one-point Anda.

3. Weight underside

Seperti keadaan relax dari pertahankan satu titik, menjaga berat badan di bawah juga mengalir natural dari relaxing completely. Anda harus menjaga berat badan dibawah untuk melaksanakan teknik aikido. Anda tidak bisa berharap untuk menangkap ki dan momentum fisik seseorang jika berat Anda berada di sekitar dada atau bahu.  Bayangkan mencoba untuk memanipulasi berat badan yang berat ketika berdiri pada jari kaki  Anda. Anda akan secara cepat kehilangan keseimbangan dan jatuh ke tanah. Menjaga berat badan di bawah membuat lebih mudah bagi Anda bergerak secara mengalir, balanced dan centered, tertanam kuat di tanah dan lebih sulit bagi Anda untuk dijatuhkan oleh yang lain.

4. Extend ki

Ketika Anda terkoneksi dengan One-Point, completely relaxed dan berat badan di bawah, Anda siap untuk extend ki. Extend ki maksudnya adalah membiarkan enerji alamiah  spiritual dan mental untuk mengalir secara mudah dan terus menerus melalui tubuh Anda ketika Anda melakukan teknik Aikido.

Perbedaan antara ektending ki dan tidak dalam teknik terlihat dalam praktik. Ketika ki tidak mengalir, Anda akan merasa menggunakan semua otot untuk melakukan teknik aikido. Anda akan clash dengan partner Anda, dan Anda berdua akan secara cepat frustasi, dan scara fisik dan mental menjadi lelah. Ketika ki mengalir, teknik Anda akan mengalir. Gerakan Anda akan terlihat seperti tarian. Partner Anda akan senang dilempar dan kesempatan bagi Anda berdua akan berakhir dengan tersenyum.

*) Disadur dan diterjemahkan secara ringkas dari buku “Complete Aikido” bab 12 ,karya Roy Suenaka dengan Christopher Watson

 Ini adalah daftar dojo aiki kenkyukai, dojo aikido dibawah naungan Hakim Sensei, bagi yang berminat ikut latihan bisa langsung datang pada saat latihan.

     
  Aiki Kenkyukai Karawaci Taman Beverly Golf, Danau Jempang no.50 Reinhard (081.8080.8345)
  Aiki Kenkyukai Mah Sing Indonesia (MSI) Kawasan Industri Jababeka, Cikarang  
  Aiki Kenkyukai Cibinong Rasya Fitness, Puri Nirwana Estate, Cibinong Heru Sensei (081511582875)
  Aiki Kenkyukai Shoshinkan 1. Journey Within, The Strand, Kota Damansara (berdepan dengan Hotel Smart). – Hari Rabu 9pm.
2. Kelab Sultan Sulaiman, Jalan Dewan Sultan Sulaiman, Kg Baru, Kuala Lumpur. – Hari Ahad 10am.
abasan@hotmail.com
   Aiki Kenkyukai Ramako Jl. Imam Bonjol no.57  
  Aiki Kenkyukai OTO Finance Summitmas Building Sudirman, Jakarta Pusat  
  Aiki Kenkyukai PT. Astra Daihatsu Motor Jl. Gaya Motor III, Sunter, Jakarta Utara  
  Aiki Kenkyukai PT. Mattel Jababeka, Cikarang  
  Aiki Kenkyukai DHL Express Pancoran, Jakarta  
  Aiki Kenkyukai PT. SHOWA Mfg Jababeka, Cikarang  
  Aiki Kenkyukai PT. Surveyor Indonesia jl. Gatot Subroto, Jakarta Pusat  
  Aiki Kenkyukai PT. INDOSAT Jakarta Pusat  
  Aiki Kenkyukai PT. Ekamant Indonesia Pulo Gadung, Jakarta Timur  
  Aiki Kenkyukai Kaiyo Medan Jl. Merak Jingga no.4, Medan (Lucy Body Language) Kholiq Sensei (08972793111)
  Aiki Kenkyukai Bintaro Emerald ClubHouse, Cluster Emerald Residence, Bintaro Shanti Sensei (0816790316)
  Aiki Kenkyukai Sukasari Bogor Gedung Serbaguna Paskhas TNI AU, KomplekKsatrian PasPamPres, Sukasari. (Seberang Ekalokasari Plaza) Ukki (0817.609.1507)
  Aiki Kenkyukai Budokai Cilegon Edy Gym (edy toserba), Jl.Raya Merak no:88 Fitri (0254.374121)
  Aiki Kenkyukai Tenkei Dojo (UI) Kompleks Kampus Universitas Indonesia, Gedung Pusgiwa, Depok Eka Sensei 08561076532
  Aiki Kenkyukai Tenkei Dojo Mayapada Tower Parking lot lt.5, Jl. Jend.Sudirman Kav.28, Jakarta 12920 Eka Sensei 08561076532
  Aiki Kenkyukai Klub Mediterania Kompleks Perumahan Mediterania, Pantai Indah Kapuk Wilis (081586608000)
  Aiki Kenkyukai Koshinkan Dojo Jl.Cipete Raya No:74c, Jakarta Selatan Ratna (081310798253)
  Aiki Kenkyukai Kelapa Gading Aula Kresno, KORAMIL Kelapa Gading. Dibelakang Masjid Raya Kelapa Gading, samping MKG 3 Kendy (021.68789898)
 

 

 

 

 

 
 

“Orang yang paling kuat di aikido adalah orang yang paling murni hati dan jiwanya, paling ikhlas, dan paling sabar. Bukan orang yang paling banyak membanting lawan,” kata Imanul hakim.

Suasana dojo (tempat pencerahan/tempat berlatih aikido) di jalan Cipete, Jakarta Selatan, Rabu menjelang pukul 20.00, mulai ramai. Satu demi satu aikidoka (sebutan untuk orang yang belajar aikido) berdatangan. Mereka terdiri dari siswa sekolah, mahasiswa, karyawan, para profesional, juga ibu-ibu.

Ruang berukuran 10 x 10 meter yang berlantai parkit itu sudah dialasi karpet karet. Di dinding ruangan tergantung beberapa poster bertuliskan huruf kanji Jepang. Sebuah foto O-sensei (maha guru) Morihei Ueshiba, pendiri aikido, disandingkan dengan poster-poster itu.

Seorang prig berkulit putih yang sering disapa Sensei Hakim, masuk ke dojo memperagakan beberapa teknik aikido. Ia memanggil Seorang senpai (aikidoka senior) untuk bertindak sebagai penyerang. Dengan wajah tenang, Sensei Hakim menahan serangan. Bahkan ia berputar-putar seperti sedang menari. Tak lama kemudian, senpai berbobot 100 kg itu hilang keseimbangan dan jatuh. Apa sebenarnya yang terjadi?

“Teknik aikido yang dilakukan dengan benar, akan membuat lawan tidak merasa dipaksa, tidak merasa ada dorongan, tidak merasa ada tarikan, tahu-tahu ia bergerak, kehilangan keseimbangan, dan jatuh. Ekspresinya meringis dan sekujur badannya seperti kram,” kata Sensei Hakim pada saat istirahat. “Bukan karena ia menahan sakit, tetapi karena ia sulit mengendalikan diri,” lanjutnya.

Tenaga orang itu sebenarnya yang dipakai untuk melawan dirinya sendiri, sampai akhirnya ia terjatuh. “Sementara ekspresi orang yang diserang tidak berubah, tenang, bahkan tersenyum. Jika berubah, berarti ada sisi negatif dalam dirinya, egonya yang tampil di situ. Dan itu sudah bukan aikido,” ujarnya.

Menyatu dengan Spirit Aikido

Simpatik, tegas, bersahabat, itulah kesan pertama ketika kami menemui Sensei Hakim (33 tahun) di dojo tempatnya mengajar yang bernaung di bawah Yayasan Indonesia Aikikai. Posturnya yang tegap (tinggi 183 cm dan berat 80 kg) tampak begitu gagah pada saat mengenakan paduan dogi (baju untuk latihan) dan hakama (celana tradisional Jepang) untuk berlatih aikido. Pria berdarah campuran Lampung dan Belanda ini dalam mengajarkan aikido selalu menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada murid-muridnya.

“Saya belajar aikido di Jakarta sejak SMP. Hanya untuk mencari esensi bela diri saja,” tuturnya. “Teknik saya dulu keras, tidak halus seperti sekarang ini. Dulu saya nggak percaya adanya energi atau kasih sayang,” sambungnya.

Tetapi, setelah menjadi guru aikido di dojo Karawaci pada tahun 1998, dan selama lima tahun mengajar Paswapres (pasukan pengawal presiden), ia mulai merenungkan kembali esensi beladiri yang sebenarnya. “Kesimpulan saya, jika seseorang hanya mempelajari tekniknya saja, maka ia akan menjadi mesin pembunuh (killing machine). Lalu buat apa manusia dilatih jika untuk membunuh orang lain? Rasanya ada yang salah kalau beladiri dipakai untuk menghancurkan orang lain,” lanjutnya.

Dasarnya cinta kasih

Setelah beberapa bulan memperdalam aikido di Jepang melalui beberapa guru, seperti Ikuhiro Kubota Shihan (Director of Nara Aikikai), Yohinobu Takeka Shihan (Director of A. K.I and Shonan Aikido Federation), dan Seigo Okamoto Soke (Head of Roppokai Daito-ryu Aikijujutsu), wawasannya semakin luas. Para sensei itu bukan sekedar mengajarkan teknik beladiri, melainkan lebih ke falsafah aikido seperti nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya dan spirit bushido (orang yang rela mengorbankan hidupnya demi hal yang dianggap mulia).

“Ternyata komponen utama dalam aikido adalah hati dan pikiran, bukan badan. Saya pun tersentuh. Saya mulai menyadari ternyata aikido ini ibarat bela diri sufi,” katanya. Sufi adalah orang-orang yang mengabdikan diri dan seluruh hidup dan kehidupan mereka hanya untuk Tuhan semesta alam semata.

“Dalam hubungannya dengan bela diri sebenarnya bela diri Sufi itu tidak pernah ada, tapi hanya ungkapan atau istilah pribadi yang saya gunakan untuk menjelaskan esensi aikido, khususnya kepada mereka yang Muslim. Sama seperti falsafah Sufi, esensi aikido yang disebut takemusu aiki, tidak ada ikatan kecuali ikatan dengan Sang Pencipta. Setiap gerakan yang dilakukan terikat pada divine will dan pada tingkatan ini seseorang telah terlepas ego dan nafsu rendahnya. “Hal tersebut dijelaskan oleh O-Sensei,” katanya. Aikido dasarnya cuma cinta kasih, kasih sayang kepada semua makhluk, sifatnya absolut, bahkan kepada lawan atau musuh kita. “Ini yang membuat saya jatuh cinta pada aikido,” tuturnya.

Diterapkan ke semua aspek kehidupan

Sulit memisahkan antara sosok Hakim dengan aikido. Agaknya ilmu beladiri asal Jepang itu sudah merasuk ke dalam jiwanya. Apabila disodori pertanyaan, jawabannya selalu mengacu pada falsafah aikido. Sebab menurutnya, filosofi aikido dapat diterapkan ke semua aspek kehidupan, seperti ke pekerjaan, kehidupan rumah tangga, dan kesehatan.

“Intinya adalah keharmonisan, yaitu keseimbangan antara hati, tubuh, dan pikiran. Pikiran kita harus jernih, hati harus bersih, tubuh harus terpelihara. Pikiran selalu dimuati hal-hal yang positif, tubuh diisi dengan makanan yang sealami mungkin, dan hati dijaga agar selalu pada zona tulus dan ikhlas,” tuturnya.

Tujuan aikido menurutnya bukanlah semata-mata belajar secara teknis mengalahkan orang yang menyerang, tetapi lebih pada penempaan diri. “Bagaimana menjaga keharmonisan diri sendiri, yaitu menyatukan hati, pikiran, dan tubuh, dalam satu kesatuan. Terkadang hati berbeda dengan pikiran dan badannya, sehingga terjadi konflik internal. Konflik inilah yang merupakan sumber segala masalah. Penyakit sering muncul dari konflik internal ini, karena adanya ketidak-seimbangan dalam tubuh,” lanjutnya.

Pemikir yang Sering Merenung

Sensei Hakim adalah seorang pemikir, ia mengaku sejak remaja sudah sering merenung tentang nilai-nilai kehidupan. Misalnya, mengapa alam ini ada, mengapa ia ada, bagaimana Sang Pencipta mengatur alam ini. Sehingga, menurutnya, jika konsep sehat dikaitkan dengan kebesaran Tuhan, bukanlah hanya tidak sakit, tetapi merupakan tanggung jawab manusia untuk selalu menjaga kesehatannya. “Tuhan menciptakan kita dalam bentuk yang sempurna, ya jangan dirusak. Hidup ini amanah. Kita diberi hati adalah amanah, artinya harus dipelihara. Diberi pikiran juga amanah, demikian pula diberi badan pun amanah,” katanya lagi.

Anda agaknya spiritual sekali? Pria yang pernah kuliah di Universitas Muhammadiyah jurusan tarbiyah itu tersenyum. ” Dalam hidup saya ada dua hal yang menarik. Pertama, masalah spiritual dan agama. Kedua, bela diri. Kedua hal ini seakan-akan berjalan seiring, tetapi tidak bersatu. Ibaratnya satu di kanan, satu di kiri. Tetapi dalam perjalanan hidup saya, tiba-tiba keduanya kok semakin mendekat, dan akhirnya menyatu,” ujarnya.

Aikido dan spiritualisme

Pun kepada murid-muridnya yang kebanyakan non-Muslim, ia selalu menanamkan nilai-nilai spiritual dengan bahasa universal. “Saya sering mengajak mereka untuk ikut merenung tentang alam semesta, atau sekadar merenungkan siapa diri kita, siapa Sang Maha Pencipta, dan tidak lupa saya selalu mengingatkan agar sebagai makhluk kita harus banyak bersyukur,” katanya.

Ia pun sering memberikan kiatnya agar bisa harmonis dengan orang lain. “Kalau kita bisa melihat keagungan Tuhan pada diri orang lain, bahkan pada lawan kita, kita akan berhenti memusuhinya. Mungkin saja keberadaannya memang diciptakan untuk kita, untuk saling mengambil pelajaran. Seperti halnya fenomena siang dan malam di alam semesta ini, bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk mencapai suatu keharmonisan.”

Adakah murid yang protes jika Anda memberi nasihat seperti itu? “Ya, ada murid yang nggak tahan. Mereka bilang, saya ini ngajar apa?” katanya sambil tertawa.

Diet Chi

Demi menjaga kesehatan, dalam kesehariannya bersama Shanti, istrinya, ia berusaha mengkonsumsi makanan yang bersahabat dengan tubuh. “Kunci utamanya adalah keseimbangan. Saya tidak pantang makan daging. Roti pilihan saya roti gandum. Sayur dan buah-buahan organik selalu saya usahakan, kendati masih mahal,” katanya. Sedangkan makanan dalam kaleng, seperti makanan ringan atau kornet, sudah lama dihindarinya.

Pemilihan makanan sehat itu tidak terlepas dari sebuah buku Diet Chi (bahasa Mandarin chi adalah energi) yang pernah dibacanya. “Saya mencoba menerapkannya dalam keseharian meski agak sulit, karena kita sudah terkepung oleh berbagai makanan yang artifisial,” ujarnya.

Buku itu membahas empat kategori penting yang berkaitan dengan chi makanan. Makanlah sesuatu pada usia chi-nya. “Misalkan kita memetik tomat dari pohonnya, lalu kita letakkan di meja tanpa kita masukkan ke kulkas. Berapa lama ia tahan? Katakanlah tiga hari, maka itulah usia chi atau usia kehidupan tomat itu, “katanya. Tetapi dengan teknologi, kita bisa memanipulasinya, misalnya dengan memasukkannya ke kulkas. “Tomat bisa tahan berminggu-minggu, tapi energinya ‘terbang’, sehingga yang kita makan hanya “bangkainya”. Vitamin memang tersisa, tetapi kita tidak lagi mendapatkan energi yang bagus, ” tuturnya.

Lalu, usahakan makan sesuatu yang tidak terkontaminasi bahan kimia, seperti sayur organik, buah organik, karena sayur dan buah organik tidak diberi pestisida. “Hal yang baik untuk pertanian kita, makanlah apa yang tumbuh di negeri/tanah sendiri,” lanjutnya. Tidak mengimpor dari luar negeri, karena kita hidup di iklim yang sama, lahir di tempat yang sama, chi-nya sama. Yang kita butuhkan adalah makanan yang chi-nya sama dengan kita. “Kita nggak butuh makanan yang tumbuh di negara empat musim karena chi-nya berbeda. Kita sering bangga makan makanan luar negeri, tetapi menurut diet chi, itu salah,” sambungnya.

Yang keempat, jangan memproses makanan secara berlebihan. “Kita boleh merebus makanan, tetapi jangan terlalu lama, karena chi-nya akan rusak,” katanya.

Self healing dan obat alami

Dalam rangka menjaga kebugaran sebagai rasa tanggungjawab merawat kesehatannya, sebisa mungkin ia menghindari pemakaian obat-obatan. “Saya suka mengkonsumsi minuman prebiotik, terutama kalau sakit perut karena salah makan. Tetapi kalau sakit perut karena keracunan, saya memilih norit. Saya lebih suka minum obat-obat alami seperti itu,” katanya.

Bahkan, ia punya cara sendiri untuk mengusir rasa sakit, seperti pengalamannya menghadapi sakit gigi. Padahal, pada saat yang bersamaan waktunya, ia harus mengajar di dojo. “Saya cuma diam mengamati diri saya sendiri, dan berbicara di dalam hati. Saya tahu gigi saya berlubang, dan saya harus ke dokter. Tapi hari ini saya harus mengajar, kasihan murid-murid saya. Besok kita ke dokter, tapi sekarang bantu saya karena saya harus konsentrasi. Gigi yang sakit diajak mengobrol saja, spontan sakitnya hilang. Berarti kita bisa bernegosiasi dengan tubuh kita, berkompromi, berbicara dengan diri kita sendiri. Biasanya berhasil, tetapi tentu saja itu dengan seizin Allah,” katanya.

Apakah dengan melatih teknik-teknik aikido, seseorang bisa mendapatkan kesembuhan? “Insya Allah, bisa. Beberapa orang yang mengalami pengapuran, bisa sembuh. Tetapi tentu saja bukan penyakit yang berat seperti kanker,” katanya.

Menghidupkan kembali nilai-nilai moral

Dengan membentuk komunitas aikido, ia bertujuan menghidupkan kembali nilai-nilai moral dan spiritual. “Harapan saya, aikido bisa menjadi sumbangan untuk bangsa ini. Bangsa kita adalah bangsa yang kaya tetapi miskin hati. Kita banyak dikelilingi oleh orang-orang yang hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri dan kelompoknya. Tetapi tidak bisa melihat apa yang terbaik untuk bangsa ini dan berkorban untuk itu,” ujarnya.

Sebelum latihan, Sensei Hakim mengumpulkan murid-muridnya dan mengajak mereka duduk berhadapan. Mereka melakukan meditasi bersama. Meditasi itu disebut mokuso, artinya membersihkan hati dan pikiran untuk melakukan satu hal secara fokus 100%. Sebab, selama di dojo mereka tidak diperkenankan membawa hal lain. Seperti masalah yang ruwet di rumah, energi negatif dalam pikiran, emosi atau rasa kesal. “Yang harus selalu tertanam adalah rasa damai dan cinta kasih terhadap Sang Pencipta dan alam semesta yang indah ini,”katanya.

 

 

Sumber: Majalah Nirmala

 http://portal.cbn.net.id/cbprtl/cyberman/detail.aspx?x=the+executive+corner&y=cyberman%7C0%7C0%7C9%7C36

Puasa Ramadhan 2010

 

Akhirnya sampai juga kita di bulan Ramadhan yang pada tahun ini jatuh pada hari Rabu, 11 Agustus 2010. Bulan Agustus ini juga saya sudah kembali ngantor di Jakarta setelah sebelumnya nguliah di Jogja, Alhamdulillah dah selesai. Seperti biasa, sebelum puasa sesama kita saling bermaafan dengan tujuan supaya pada saat puasa hati kita sudah bersih dari dosa dengan sesama. Saya juga mengucapkan pada sesama bloggers selamat puasa Ramadhan bagi yang melaksanakannya dan mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita diberi panjang umur dan kesehatan untuk menjalani puasa Ramadhan kali ini dan dapat mengisinya dengan kegiatan yang diridhoinya.

Kemarin malem abis nonton best of the best di Global TV, seru juga. Malam ini diterusin BOTB 2. pAS Dicari di google dapet nih.

Best of the Best is a 1989 martial arts film. The plot revolves around a team of Americans facing a team of Koreans in a taekwondo tournament. Several sub plots pop up in the story – moral conflicts, the power of the human spirit triumphing over adversity are some themes. The movie stars James Earl Jones and Eric Roberts. The film was followed by three sequels released in 1993, 1996 and 1998.

In his book Iceman: My Fighting Life, UFC champion Chuck Liddell cites Best of the Best as his personal favorite martial arts film.

Ceritanya begini:

Alexander Grady, a widower and father of a five-year-old son, Walter, is chosen to represent the United States of America in an international taekwondo tournament against Team Korea. Also chosen for the team is Tommy Lee, a man seeking revenge against a member of Team Korea for the death of his brother during a previous tournament. The rest of Team USA consists of Travis Brickley, an extremely brash fighter with a short fuse; Virgil Keller, a devout Buddhist; and Sonny Grasso, a streetwise fighter from Detroit.

Coached by Frank Couzo (who was also the coach of Tommy’s older brother) and Catherine Wade, the team prepares to meet an unstoppable group of true martial arts experts. Their chances of winning are virtually non-existent, as the Koreans train all year long and are known as the best the sport has to offer. Along their journey, the Americans have to deal with their personal conflicts and tragedies, before they become a team.

When the tournament starts, Keller and Grasso are out classed by their Korean opponents. Travis does his best to psyche up the team with his brash attitude leading to a sudden death breaking duel with his opponent. Couzo invites Grady’s family to motivate him to win; however, he is severely injured during his bout. Instead of giving up, he decides to fight with one arm; ultimately, defeating his opponent. Finally, Tommy faces the captain of the Korean team, Dae Han, the man responsible for the death of his brother. With time running out in their grueling battle, Tommy has a decision to make: seek vengeance and victory for his team or lose with honor.

Bela dirinya kayak apa yah?

Although the martial art used in the film is referred to as karate, the format of the tournaments and the techniques used are mix up between World Taekwondo Federation and International Taekwon-Do Federation style taekwondo. There are several give-aways that the style used is taekwondo. The Koreans are not a world dominating force in karate as they are in taekwondo – Japan and Europe tend to dominate karate. The use of hogu (body protectors) is characteristic of WTF taekwondo, and glove & in-step protectors are characteristic of ITF taekwondo. The kick-dominated style of the tournaments shown in the movie are characteristic of ITF taekwondo where punching in the face is legal. In the outside scenes in Korea, signs can be seen pointing to the “taekwondo” facilities.

Certain techniques displayed in the movie fights, such as grappling, throws, and punches to the face, and kicks to the legs, are illegal in WTF taekwondo sparring. Those techniques are considered too dangerous to be applied in actual competition and are reserved for self-defense training in the dojang (gym). The ITF allows kicks and punches to areas of the body above the belt (hip) excluding the back, and permits punches to the face, although no grappling or throws are allowed. The fight choreography of Best of the Best clearly shows techniques that were extracted from Hapkido.

The makers of the film chose to use the term “karate” as it is a shorter and more familiar word to Westerners (also used as a means to express any martial arts competition that involves “unarmed” combat by many world federations), but there are many differences between karate (considered Japanese) and taekwondo (Korean).

Bintangnya siapa?

  • Alexander Grady – Eric Roberts
  • Coach Frank Couzo – James Earl Jones
  • Kathryn Wade – Sally Kirkland
  • Tommy Lee – Phillip Rhee
  • Travis Brickley – Christopher Penn
  • Virgil Keller – John Dye
  • Sonny Grasso – David Agresta
  • Coach Don Peterson – Tom Everett
  • Mrs. Grady – Louise Fletcher
  • Mr. Jennings – John P. Ryan
  • Walter Grady – Edan Gross
  • Korean Coach – Hee Il Cho
  • Dae Han Park – Simon Rhee
  • Sae Jin Kwon – James Lew
  • Yung Kim – Ken Nagayama
  • Broadcaster – Ahmad Rashad
  • Kelahiran Bayi

    Hari ini seorang saudara menjadi seorang bapak, istrinya melahirkan anak pertama. Anaknya seorang lelaki, berat 3,2 dan tinggi (lupa). Kelahiran anaknya dengan operasi sexi alias cesar. Sebabnya dari malam bukaan dua terus, udah begitu asmanya kambuh. Akhirnya diputuskan operasi.

    Hal ini mengingatkan saya pada hal yang sama tiga tahun yang lalu. Istri saya yang sedang hamil 9 bulan, tiba-tiba perutnya mulas. Hari itu, sabtu malam kira-kira pukul 12 malam, saya mengantarkan istri saya ke rumah sakit disertai dengan mertua. Rumah sakit yang dituju adalah rumah sakit H yang terletak dekat rumah. Selain itu juga tempat kontrolnya juga disitu. Pada malam itu saya menyaksikan bagaimana perjuangan istri untuk melahirkan anak yang dikandungnya, sangat berat dan kelihatan kesakitan. Waktu terus berlalu dan bukaan istri sudah penuh, 9 kalau gak salah. Semua proses kelahiran saat itu dipimpin oleh bidan, kalau gak salah dokter jaganya tidak ditempat namun hanya dihubungi via telp. Saya berharap dipimpin sama dokter, tapi tidak tahulah saya prosedurnya bagaimana. Akhirnya sang bidan menemui saya dan meminta izin untuk melakukan cesar karena satu hal, kalau gak salah bayinya posisinya menengadah/ dangak ke atas, jadinya susah keluar. Saya pun menyetujui dan menandatangani formulir persetujuan. Pada pukul 5 pagi , hari Minggu lahirlah anak saya yang pertama dengan berat 3,9 kg. Alhamdulillah. Hilang sudah kecemasan, berganti dengan kegembiraan mendapatkan anak yang sehat dan sempurna.

    Mempunyai anak merupakan anugerah yang terindah dan terbesar bagi saya dan mungkin juga bagi kebanyakan pasangan suami istri. Ada beberapa teman saya yang sudah menikah beberapa tahun namun belum mendapatkan momongan. Betapa besar keinginan mereka dan betapa besar usaha yang mereka lakukan, namun banyak yang belum mendapatkan hasil. Mungkin ini jalan tersendiri yang merupakan keputusan Tuhan. Karena manusia berusaha dan Tuhan yang menentukan.

    Mempunyai anak juga sekaligus amanah. Amanah itu juga menimbulkan berbagai masalah bagi pasangan muda. Mulai dari terganggunya tidur, siapa yang menjaga anak, bagaimana kalau anak sakit. Tetapi masalah adalah bagian dari hidup yang mendewasakan manusia. Masalah itu menjadi tantangan bagi kita untuk menyelesaikan dan menghadapinya. Begitulah yang saya rasakan, manusia memang diberi software super canggih dari sang pencipta untuk beradaptasi terhadap masalah yang mereka hadapi.